Hari dan taggalnya saya nggak ingat, tapi kejadian peristiwanya sungguh masih terpatri di kepala. Betapa tidak, saya sendirian di dalam gardu kampling, tanpa bacaan tanpa apapun yang bisa aku dengar, benar-benar senyap. Tanpa terasa, dari mulai aku mengantar sahabat 3 jam berlalu, tetap saja kesetiaanku tidak goyah, di pos kamling dan kini nyamuk menjadi teman baikku. Teruske dewe…..
Format Pendidikan Kota Pekalongan
Rasanya aneh dan kikuk membuat tulisan dengan judul seperti di atas. Mungkin kalau diganti bahasa iklan akan menjadi: ”Hari gini, baru bicara format pendidikan…?!!”
Bagaimana tidak aneh, undang-undang yang mengatur pendidikan sudah berkali-kali diperbarui, terakhir UU No 20 Th 2003 tentang Sisdiknas. Peraturan pemerintah untuk mendukung aplikasi dari undang-undang tersebut sebagian kecil juga sudah dikeluarkan –masih banyak PP yang belum dibuat–. Bahkan, dengan semangat entah apa, Pemkot Pekalongan telah membuat Perda Pendidikan.
Seharusnya, dengan piranti hukum yang sudah tersedia tersebut, pendidikan semestinya akan berjalan sebagaimana aturan yang telah di undangkan atau di perda-kan, sehingga, membahas format pendidikan sudah tidak dibutuhkan dan akan out of
Kembali Ke Khittah
DALAM salah satu sajaknya yang terkenal, penyair angkatan 66, Taufik Ismail pernah menulis bahwa masa depan Indonesia bagaikan “lampu 15 watt”. Ungkapan yang bernada pesimistik ini tentu tak dimaksudkan untuk meramalkan masa depan kita yang sebenarnya. Ia sekadar keprihatinan puitik seorang penyair menyaksikan carut marutnya situasi negeri sendiri. Korupsi yang merajalela, lemahnya penegakan hukum, mafia peradilan, pemborosan energi dan sumber daya, ketimpangan sosial ekonomi yang demikian menggejala, kemacetan kreativitas kebudayaan, konsumerisme dan hedonisme yang dibarengi dengan melemahnya daya hidup rakyat jelata; bagi Taufik Ismail, semua itu barangkali dapat membuat pijar masa depan kita seperti “lampu 15 watt”.
Dan jika masa depan negara ini, secara keseluruhan, dikiaskan laksana sebuah bola lampu yang
Menjadi Figur Guru Ideal
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diwajibkan untuk diikuti oleh setiap orang terutama manusia muda (baca : peserta didik). Dan salah satu factor penunjang keberhasilan pendidikan adalah peranan pendidik (guru). Tidak jarang pembahasan tentang tugas dan peran guru menjadi bahan perbincangan yang serius ketika muncul masalah-masalah pada diri siswa di sekolah. Gurulah yang pertama ditegur, kenapa begini dan kenapa begitu sehingga problem-problem bermunculan. Disisi lain sangat sedikit sekali bahkan hampir tidak pernah setiap guru teladan mendapat penghargaan dari berbagai pihak ketika guru telah menunjukkan prestasinya.
Sebagai profesi lainnya, diakui atau tidak, guru juga pasti memiliki keberhailan dan kelemahan. Kekurangan guru diantaranya ialah 1) akademik yang kurang memadai; 2) kurang professional; 3) kurang memahami
Peran Guru Vs Kekerasan Pelajar
Pendahuluan
Tindak kekerasan di lingkungan pendidikan ditengarai kian marak saja. Dilihat di kalangan siswa dari pelaku dan korbannya ,bisa dipilah menjadi 2 : dilakukan guru terhadap siswa,dan dilakukan oleh dan dengan korban siswa/kelompok siswa. Terkait dengan tindak kekerasan guru terhadap siswa , data Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI ) melalui hot line service dan pengaduan ke KPAI memperlihatkan, pada tahun 2007 dilaporkan 555 kasus kekerasan terhadap anak,118 % dilakukan oleh guru,sedangkan pada tahun 2008,dari 806 kasus kekerasan yang dilaporkan, 39 % dilakukan oleh guru ( Kompas 6/3/2009).Tindak kekerasan dengan pelaku dan korban siswa/kelompok siswa di kalangan siswa cukup menonjol adalah bullying dan perkelahian antar pelajar dalam satu maupun antar
Manusia Bertanya Tuhan Menjawab
“Tim Indonesia menjadi juara umum dalam Kompetisi Matematika Internasional III-2009 atau “The 3rd WIZMIC 2009 (Wizard at Mathematic International Competition 2009)” di Lucknow, India pada 27-30 Oktober. Peringkat juara umum itu diraih tim Indonesia setelah menyabet 10 medali emas, sembilan perak, dan lima perunggu dalam 3rd WIZMIC 2009 itu,” kata staf khusus Mendiknas, Ir Sukemi.”
Tiap kali membaca berita tentang prestasi pelajar Indonesia meraih kejuaraan di berbagai kompetisi internasional, rasanya selalu saja ada kebanggaan dan perasaan optimistis; kita ini termasuk bangsa yang cerdas. Terlebih berita itu dimuat di situs National Geographic Indonesia (NGI), yang tentu punya prestise tersendiri bagi pembaca berita-berita tentang sains.
Sejak awal abad ke 20, sudah banyak pelajar kita
Kepedulian Berbuah Prestasi
Dari kegemaran membaca buku, lahirlah gagasan. Dari gagasan berubah menjadi kepedulian. Dari kepedulian, eh, tak disangka, berbuah jadi prestasi. Tak tanggung-tanggung, tingkat nasional pula.
“Ya, semua terjadi serba kebetulan,” tutur Masyhudi Sa’an, Kepala SD Negeri Gejlig I, Kabupaten Pekalongan. Pria kelahiran Batang, 30 Oktober, 1963, ini berhasil meraih Juara I Nasional Lomba Karya Tulis Pendidikan Keaksaraan –. satu dari lima prestasi yang diraih Jawa Tengah dalam acara Jambore Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTKPNF) di Bogor, 10-12 Agustus 2007.
“Keaksaraan itu memang istilah yang belum akrab di telinga kita. Istilah yang sudah dikenal ya pemberantasan huruf itu,” ujar Sarjana Agama lulusan Tarbiyah STAIN Pekalongan, 2000, yang sekarang menempuh studi
SDIT Ulil Albab : 100 % Umum, 100 % Agama
Masjid itu gaduh oleh gurauan para siswa SDIT Ulul Albab di Kampus 2, Jalan Manunggal, Gg II/ 5 – 6, Pakalongan. Beberapa di antaranya malah saling dorong, bergulingan, dan main tebak-tebakan. Seorang guru yang siang itu membimbing sholat dhuhur, tampak kewalahan menenangkan mereka.
Suasana riuh-rendah baru reda ketika sholat dimulai. Seorang guru menjadi imam, dan para siswa menjadi makmum. Eh, dari balik tabir yang membatasi siswa dan siswi, masih juga terdengar bisik-bisik. Maklum, anak-anak, kan?
Seusai sholat, mereka membaca doa bersama. Seorang siswa membaca teks doa, teman-teman mereka menirukannya. Beberapa guru juga tampak ikut berbaur sholat berjamaah bersama para siswa.
Bagi para siswa SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Ulul Albab, pelajaran agama dan pengetahuan umum bukanlah hal yang








